Ide Akhlil | Jurnalis, peminum kopi hitam, dan penggemar berat Lionel Messi karena rambutnya yang panjang.
Ada masa yang selalu terasa berbeda setiap empat tahun sekali. Bukan karena musim durian akan datang bersamaan, bukan juga karena baliho politik kembali memenuhi jalanan. Waktu itu disebut Piala Dunia.
Memang aneh. Turnamen sepak bola ini mempunyai kekuatan yang sulit dijelaskan dengan logika. Orang yang biasanya tidur jam sembilan malam, tiba-tiba bisa begadang hingga adzan Subuh. Keesokan paginya ia masih berangkat kerja dengan mata sembab, namun tenaganya tiba-tiba pulih saat berdebat dengan keputusan wasit seolah FIFA sedang membuka lowongan penasihat pertandingan.
Di Indonesia, Piala Dunia telah melampaui batasnya sebagai sebuah acara olahraga.
Ini telah berubah menjadi musim panen komentar.
Kedai kopi tiba-tiba menjadi studio analisis sepak bola. Pembalap, guru, polisi, pedagang, PNS, nelayan, bahkan orang yang sepanjang tahun tidak pernah menyentuh siaran liga, tiba-tiba hafal statistik, formasi, dan gol yang diharapkan. Semua orang mengira mereka punya teori. Semua orang merasa pelatih timnas dunia kurang pintar dibandingkan dirinya.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Sepak bola memberikan ruang bagi siapa pun untuk merasakan rasa memiliki.
Yang menarik bukan pertandingan di lapangan.
Yang menarik adalah kelakuan pendukungnya.
Suporter Argentina yakin Lionel Messi adalah jawaban atas hampir seluruh persoalan hidup. Suporter Portugal percaya Cristiano Ronaldo adalah definisi kesempurnaan. Suporter Prancis menantikan Mbappé kembali membuat dunia takjub. Sedangkan suporter Brazil selalu mengawali turnamen dengan optimisme setinggi langit, lalu perlahan menghilang dari grup chat saat babak knockout tiba.
Untungnya, lingkaran pertemanan masih jauh lebih sehat dibandingkan media sosial.
Tentu saja saling mengolok-olok.
Tentu saja saling berkirim meme.
Saling memanggil pemain lawan hanya menang cepat dengan berlari, itu juga normal.
Namun setelah itu kopi tetap diminum bersama. Tidak ada yang memutuskan persahabatan hanya karena bola gagal melewati garis gawang.
Begitulah seharusnya fanatisme bekerja.
Menyenangkan, tidak bermusuhan.
Diantara sahabat-sahabat tersebut ada satu nama yang selalu saya ingat, Widi Satoto.
Jika ditanya siapa suporter Portugal paling setia yang saya kenal, selain mendiang Roonie, sahabat saya semasa di Batam, maka Widi adalah jawabannya. Al-Fatihah untuk almarhum.
Dulu, saya bahkan sempat bercanda dengan mendiang Roonie, jika suatu saat Cristiano Ronaldo membuka toko mie instan, bisa saja Roonie datang di hari pertama hanya untuk membeli semangkuk mie sebagai bentuk dukungan moral.
Di sisi lain, saya sudah lama jatuh cinta dengan Argentina, karena Messi masih berambut gondrong.
Bagi saya, Messi bukan hanya pemain hebat. Ia membuktikan bahwa orang yang pendiam pun bisa membuat stadion menjerit hanya dengan satu sentuhan kaki kirinya.
Karena itu suatu hari aku menggoda Widi.
“Belikan aku jersey Argentina.”
Saya yakin permintaan itu akan ditolak.
Bagaimana suporter Portugal rela membeli atribut negara yang bertahun-tahun menjadi rival idolanya?
Ternyata saya salah.
Beberapa hari kemudian, Widi benar-benar membeli jersey tersebut.
Lucunya, dia memberi satu syarat.
“Saya tidak ingin memegang pakaiannya.”
Siapa yang membelinya.
Siapa yang membayarnya.
Namun yang menyerahkannya adalah Mas Supri.
Mungkin, menyentuh jersey Argentina terasa terlalu berat bagi seorang suporter Portugal. Ibarat meminta suporter Liverpool menyanyikan lagu kebanggaan Manchester United.
Memang lucu.
Namun sebenarnya dari situ saya belajar satu hal.
Orang fanatik bisa.
Hanya saja, jangan kehilangan akal sehat Anda.
Silakan berdebat tentang Messi dan Ronaldo.
Silakan saling mengolok-olok ketika tim favorit Anda tersingkir.
Namun, ketika seorang teman membutuhkan bantuan, semua atribut tersebut harus segera kehilangan maknanya.
Karena persahabatan jauh lebih mahal daripada memenangkan satu pertandingan.
Beberapa hari kemudian saya ingin mengoleksi jersey lagi, karena saya tidak mempunyai Jersey Away Argentina.
Masalahnya sederhana.
Mencari jersey bola di Dabo Singkep tidak semudah mencari ikan bilis.
Seperti kebanyakan orang Lingga, hanya ada satu solusi langsung.
Percayakan pada masyarakat Batam.
Batam memang kota yang unik.
Setiap ada teman yang kesana, tiba-tiba semua orang merasa punya daftar belanjaan.
Seseorang meninggalkan parfum.
Seseorang meninggalkan sepatunya.
Ada pula yang menitipkan suku cadang sepeda motor.
Saya tidak berbeda.
Pada tanggal 29 Juni 2026 saya menghubungi Pero, anggota Polsek Lingga yang sedang bertugas di Batam.
Saya bertanya apakah Anda dapat menemukan beberapa kaus.
Dua jersey kandang Argentina.
Dua jersey tandang Argentina.
Satu jersey Prancis.
Semuanya mempunyai nama pemiliknya.
Satu untuk Muhammad Nizar, Bupati Lingga.
Satu lagi untuk Leo, seorang teman sekolah garis keras asal Argentina. Dulu waktu sekolah dia ganteng, tapi sekarang dia cowok ganteng, kepalanya botak, tepatnya Sulah. Saya mengenalnya dengan baik, dia tidak mau menerima barang gratisan, dia langsung membayar pakaian yang datang.
Satu lagi saya siapkan sebagai kado ulang tahun untuk Pak Patri La Zaiba, Kepala Kantor Imigrasi Dabo yang mengaku menjadi pendukung Argentina sejak era Maradona.
Sementara itu, saya menyiapkan jersey Perancis untuk Dokter Bukit.
Saya suka tipe suporter seperti dia.
Fanatik, tapi tetap sopan.
Menang bukanlah hal yang merendahkan.
Yang kalah tidak mencari kambing hitam.
Sayangnya, dukungan seperti ini kini semakin langka.
Media sosial perlahan membuat banyak orang lebih sibuk memenangkan kolom komentar dibandingkan menikmati pertandingan.
Lalu seseorang bertanya padaku.
“Apa manfaatnya memberi mereka jersey?”
Saya hanya tersenyum.
Saat ini kita terlalu terbiasa menghitung untung dan rugi.
Seolah-olah setiap senyuman harus ada tanda terimanya.
Setiap bantuan pasti ada usulannya.
Setiap hadiah pasti ada nota kesepahaman.
Jika ada yang mengirimkan hadiah, langsung dicurigai sedang mencari proyek.
Jika Anda memanjakan diri dengan kopi, Anda dianggap sedang membuka jalan bagi minat Anda.
Jika Anda memuji orang lain, Anda akan dituduh menjilat.
Kebaikan seolah kehilangan hak untuk berdiri sendiri tanpa terikat pada motif tersembunyi.
Kita hidup di zaman di mana sebagian orang lebih cepat mempercayai teori konspirasi dibandingkan kejujuran.
Mereka menganggap tidak ada lagi amal baik yang datang dari hati. Semuanya pasti ada transaksinya. Setiap orang pasti menginginkannya. Semuanya harus menghasilkan keuntungan.
Ironisnya, orang-orang seperti ini sering kali merasa dirinyalah yang paling kritis, padahal yang dipupuk bukan daya pikirnya, melainkan rasa curiga yang sudah terlanjur tumbuh. Logika mereka berhenti pada satu kesimpulan sederhana, kalau tidak menguntungkan buat apa memberi.
Faktanya, tidak semua hubungan dibangun dengan kalkulator.
Tidak semua persahabatan lahir dari lamaran.
Dan tidak semua hadiah adalah investasi.
Saya tidak meninggalkan amplop itu.
Tidak berlaku.
Tidak mengharapkan proyek itu.
Aku hanya mengingat orang-orang yang telah baik padaku.
Karena salah satu hutang yang paling sulit dilunasi bukanlah uang.
Namun hutang budi kepada orang-orang yang telah membuat kita merasa tidak sendiri.
Hari-hari berlalu.
Jersey tersebut dibagikan satu per satu.
Hingga sore hari, Jumat 10 Juli 2026.
panggil Somok.
“Buka WhatsApp, Kak.”
Saya membuka pesan itu.
Di layar tampak foto dan video Bupati Muhammad Nizar dan Ibu Maratusholiha tampak mengenakan jersey Argentina.
Saya tersenyum.
Bukan karena dia seorang bupati.
Tapi karena kalimat yang keluar begitu khas Indonesia.
“Tahun ini saya tidak mendukung siapa pun, namun dalam hati saya tetap Argentina.”
Namun saya menaruh keyakinan, begitu pertandingan dimulai, dalam hati berdoa agar Argentina menang.
Lalu muncullah adegan yang menurut saya paling membumi.
Bupati Nizar melihat ukuran pakaiannya.
“Kalau ada ukuran L, ini besar.”
Saya langsung tertawa.
Pikiranku melayang ke Somok.
Somok bekas terlalu kecil.
Dipakai oleh Bupati dalam ukuran yang besar.
Tampaknya ukuran tersebut lebih cocok untuk Ruslan yang kebetulan merupakan suporter Prancis.
Beruntung Bu Maratusholiha mencoba jersey lainnya.
Bukan.
“Kalau yang di rumah cocok,” kata Bupati Nizar.
Kemudian Bu Maratusholiha mengacungkan jempol dan berkata: “Terima kasih. Semoga diberkati.”
Bupati Nizar menutupnya dengan satu kalimat sederhana: “Semoga Argentina kembali juara di tahun 2026.”
Saat itulah aku menyadari sesuatu lagi.
Piala Dunia bukan hanya soal gol, trofi, atau siapa yang akhirnya mengangkat trofi tersebut.
Terkadang itu hanya alasan bagi orang untuk mengingat satu sama lain.
Terkadang itu hanya alasan untuk meninggalkan nama teman ketika mereka melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai.
Terkadang itu hanya alasan untuk mengirim kado sederhana tanpa menunggu hari besar.
Pada akhirnya, sepak bola hanyalah sebuah permainan.
Jersey hanyalah sepotong kain.
Yang membuatnya berharga bukanlah simbol di dadanya.
Bukan juga jumlah bintang di atas logo federasi.
Yang membuatnya berharga adalah cerita yang dirangkai dengannya.
Bercerita tentang seorang suporter Portugal yang rela membeli jersey Argentina.
Tentang seorang polisi yang bersedia membantu mencarikan jersey Argentina dan Prancis.
Tentang teman sekolah yang mempunyai gengsi tinggi.
Tentang seorang dokter yang fanatik namun tetap santun.
Tentang seorang bupati yang diam-diam masih menyimpan Argentina di hatinya.
Dan tentang saya, yang akhirnya mengetahui bahwa persahabatan seringkali tidak membutuhkan pidato panjang lebar.
Hanya sepotong jersey.
Hanya secangkir kopi.
Selebihnya, biarkan cerita yang bekerja.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan curahan penulis yang bisa berupa kisah nyata, pengalaman pribadi, maupun unsur fiksi. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Kirim Tulisan Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! WhatsApp: 0811-7776-644 Email: kutipan.co@gmail.com
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.