KUTIPAN – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lingga melaksanakan rukyatul hilal dalam rangka penetapan awal 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3/2026).
Kegiatan observasi hilal dipusatkan di kawasan Tanjung Teludas tepatnya di Tugu Khatulistiwa dengan melibatkan tim berjumlah 13 orang.
Berdasarkan berita acara resmi hasil rukyat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lingga, hilal dinyatakan tidak terlihat hingga berakhirnya masa pengamatan. Proses rukyatul hilal dimulai sejak terbenamnya matahari pada pukul 18.12.51 WIB hingga terbenamnya hilal pada pukul 18.25.09 WIB.
Secara astronomis, posisi bulan sabit berada pada ketinggian 2 derajat 36 menit 53 detik dengan lama waktu di atas ufuk sekitar 12 menit 18 detik. Bulan sabit juga teramati berada di sebelah kanan Matahari di belahan bumi utara.
Namun kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam proses observasi. Saat rukyat berlangsung, ufuk barat dikabarkan tertutup awan tebal sehingga menghambat visibilitas hilal.
Tim Ahli Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Lingga, Burhanuddin menjelaskan, faktor cuaca menjadi penyebab utama bulan sabit tidak terlihat.
Bulan sabit tidak terlihat karena tertutup awan di sekitar ufuk saat proses rukyat, ujarnya.
Penyelenggaraan rukyatul hilal merupakan bagian dari rangkaian observasi nasional yang dilakukan serentak di berbagai wilayah Indonesia. Hasil observasi tersebut kemudian dilaporkan ke Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Syawal 1447 Hijriah.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Lingga Zamroni mengatakan, pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
“Pemerintah telah menetapkan jatuhnya 1 Syawal 1447 H. Kalau ada perbedaan dengan Muhammadiyah dan ormas lainnya, mari kita hargai perbedaan tersebut. Setiap orang punya dasar dan keyakinannya masing-masing,” tutupnya.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.